Senin, 30 Januari 2017

Menyapa "Matahari" di Bumi Masamba

Semua kata andai terus berkecamuk di benakku saat hari keberangkatan menuju sebuah kota berjarak 324 kilo meter arah utara Kota Makassar. Andai saja saya memilih tidak ikut, mungkin malam ini saya masih menghabiskan waktu di kamar dengan gadget. Andai saja saya tidak mengiyakan ajakan teman di penghujung waktu deadline keberangkatan, saya pasti tak harus melewatkan malam dengan menahan kantuk, hanya karena kursi bus yang rusak. Andai jatah cuti ini saya manfaatkan untuk berlibur ke Puncak, mungkin akan jauh lebih sejuk dibandingkan suhu dalam bus yang lumayan membuat gerah.

Beruntung, pikiran-pikiran ‘tak bermutu itu tidak berhasil menghasutku. Semuanya berkat nilai-nilai kehidupan yang saya dapatkan selama menjadi bagian dari sebuah gerakan kemanusiaan yang selalu menitikberatkan pada kerelaan berdonasi waktu. Relawan, kata itu tersemat padaku sejak bergabung dalam Komunitas Sobat LemINA sekitar 2 tahun lalu. Bangga sih disebut relawan, dan dibalik kebanggaan itu ada tanggung jawab besar yang harus saya selesaikan.

Relawan itu sosok mengasyikkan yang rela melakukan apa saja. Saya mengacungkan dua jempol buat siapa saja yang sepakat dengan pendapat itu. Makanya, banyak yang menyarankan untuk mencari pendamping hidup di lingkungan relawan saja. Hahahahaha.. sedikit intermezzo ya biar tidak terlalu kaku membaca tulisan yang kurang tertata rapi ini.

Saya kembali melanjutkan kisah perjalanan yang sempat terhenti karena gagal fokus. Masamba, kota yang ditempuh sekitar 10 jam perjalanan dari kota Makassar, merupakan tujuan kegiatan saya dan relawan Sobat LemINA kali ini. Memutus mata rantai potensi tindak kekerasan seksual pada anak, melalui Program Aku Sayang Badanku menjadi misi utama saya dan relawan lainnya.

Alhamdulilah, sekitar pukul 06:30 wita saya dan rombongan tiba di Masamba dengan selamat. Bus Bintang Marwah yang saya tumpangi pun lansung mengantar ke Hotel Remaja. Kota Masamba menjamu kedatangan saya dengan tangan terbuka, matahari bersinar cerah dengan semburat jingga membelah langit. Kepala yang berat akibat kurang tidur, tak lantas membuat gerakan tubuh menjadi melambat sesampai di penginapan. Sarapan, mandi dan berpakaian saya lakukan tanpa membuang waktu. “Coba saja berleha-leha kalau mau dapat sindiran manja dari Bunda,” gumamku tidak kuasa membayangkan wajah Bunda. Bunda adalah salah satu inisiator Sobat LemINA sekaligus relawan yang dituakan. Bukan saja karena usianya yang memang sedikit lebih di atas relawan lainnya, tetapi karena pengalamannya yang jauh di atas rata-rata dibandingkan saya. “Apalah saya ini.”

SD Negeri 087 Katokkoan, Masamba – Luwu Utara dengan ratusan siswa-siswinya menyambut kami dengan antusias. Sejumlah kegiatan sudah dipersiapkan, meski belum semaksimal yang diharapkan. Tetapi, saya dan teman-teman relawan siap melakukan yang terbaik. Mulai dari sesi mendongeng, ice breaking, menonton film, hingga mengajarkan lagu sentuhan, yakni nyanyian tentang sentuhan boleh dan tidak boleh ke anak-anak.

Doc. Pribadi
Sesi mendongeng rupanya menjadi bagian yang selalu ditunggu dan ingin kembali ditonton, anak-anak yang sudah melalui sesi pertama pun rela memanjat jendela hanya untuk melihat para kakak relawan mendongeng di sela-sela sisa tenaga yang masih coba dikumpulkan.






Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Salut deh buat kakak-kakak relawan yang berperan sebagai juru dongeng. Kemampuan yang diperoleh melalui belajar singkat di dua pertemuan saja bisa dieksekusi dengan cukup apik. Maaf karena saya hanya bisa mengabadikan aksi hebat kalian.

Kegiatan Aku Sayang Badanku yang dikemas dengan sangat menyenangkan, sebenarnya menjadi upaya deteksi dini terhadap kemungkinan anak-anak terpapar hal-hal yang berbau kekerasan dan seks. Dan potensi itupun ditemukan pada ASB kali ini. Keprihatinan saya dan relawan Sobat LemINA pun menjadi bahan perbincangan saat menggelar Focus Group Discussion khusus untuk guru pada akhir perjumpaan di hari kedua. FGD difasilitasi langsung oleh Emilya Mustari, salah satu relawan yang memang berprofesi sebagai Psikolog.

Doc. Pribadi
Prihatin atas temuan potensi anak menjadi korban kekerasan seksual, di Kota yang mendeklarasikan dirinya sebagai Kota Ramah Anak. Namun bersyukur karena pemerintah setempat sangat mendukung kegiatan Aku Sayang Badanku. Langkah kami memang kecil, tetapi hal besar pun dimulai dari sesuatu yang kecil bukan? Senyum anak-anak di Kota Masamba harus terus dijaga agar terus ceria. Seperti cerianya matahari yang setiap pagi menunggu di ufuk timur.




ASB Masamba dilaksanakan selama dua hari yakni 25-26 Januari 2017, yang diselingi dengan evaluasi di akhir kegiatan. Makan durian di pinggir sungai dan berkunjung ke rumah pohon, tempat yang digunakan sebagai pusat pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak di Kota Masamba menjadi agenda pelepas penat kami. Terima kasih Sobat LemINA telah memberikan saya rumah dan keluarga baru yang dihuni relawan-relawan hebat. 

Mari bersama menjadi pribadi yang jauh lebih baik setiap harinya. Karena jiwa yang baik adalah yang melihat kebahagiaan saat memberi kebahagiaan kepada orang lain. (Imam Al Banna)

Doc. Pribadi

#AkuSayangBAdanku 
#SobatLemINA 
#Masamba 
#Lutra

Jumat, 11 Maret 2016

Review “Rumah Baca Suprau”



Menulis, bagi saya bukan hal yang mudah. Bukan karena menulis itu sulit, melainkan karena saya tidak terbiasa melakukannya. Tetapi, saya akan terus mencoba membiasakan diri untuk menulis. Akan kupaksa otak ini berimajinasi, dan kulatih jari-jari ini bergerak merangkai satu demi satu kata hingga menjadi sebuat tulisan yang layak dibaca. Nah, kali ini saya akan melakukan review terhadap sebuah tulisan bertema Rumah Kaca Suprau yang dipublish oleh Winarsi Apriastuti Aswan, melalui situs blognya di www.aswanwiwi.com
 
Di dalam tulisannya, Winarsi Apriastuti Aswan menjelaskan sebuah skenario indah yang Allah buat untuk orang-orang positif yang selalu pantas untuk disyukuri. Winarsi meyakinkan kepada setiap pembacanya bahwa apa yang setiap orang jalani saat ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah ketetapan Allah yang sepatutnya bisa dijalani dengan bijak. Sekaligus, mengajak pembaca untuk terus mengintrospeksi diri tentang kebaikan apa yang telah dilakukan hari ini. Tentu, hal itu dimulai dari diri penulis, yang sangat jelas diungkapkan dalam penggalan tulisannya “Kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? Sudahkah saya membuat paling tidak satu orang yang saya jumpai hari ini tersenyum? Atau hari yang saya lalui justru berakhir dengan kesia-siaan?”

Sebenarnya, tulisan ini lebih bercerita tentang pengalaman penulis bertemu dengan orang-orang hebat di Kota Sorong, Papua yang telah mendedikasikan diri sebagai volunteer Buku Untuk Papua. Juga tentang anak-anak Papua yang memiliki semangat belajar luar biasa di tengah keterbatasan sarana belajar yang ada. Cara penulis menyampaikan kisah singkatnya di Rumah Baca Suprau begitu mengalir. Sehingga pembaca pun bisa ikut measakan kebahagiaan yang penulis rasakan. 

Sayangnya, penulis begitu asyik dengan ceritanya bersama anak binaan Rumah Baca Suprau bernama Dewi, sehingga penulis melupakan beberapa informasi penting yang sangat dibutuhkan pembaca. Hal utama yang dilalaikan penulis adalah data. Melihat judul besar tulisan Winarsi, saya sebagai pembaca tentu akan bertanya “di mana Rumah Baca Suprau itu?” Sementara di dalam tulisannya, penulis hanya menyebutkan lokasi secara umum, yakni di Suprau, Papua. Mungkin bisa ditambahkan informasi yang lebih detail, misal berapa jarak dari Kota Sorong ke Suprau, termasuk jenis transportasi apa saja yang bisa digunakan  untuk tiba di lokasi. Informasi tentang siapa saja para volunteer BUP dan data jumlah anak binaan BUP juga kurang.

Penulis memang menambahkan foto, tetapi gambar yang dilampirkan tidak cukup kuat untuk mendeskripsikan tentang kondisi Rumah Baca Suprau. Sebaiknya penulis bisa secara khusus menjelaskan tentang keberadaan Rumah Baca Suprau, sebelum lebih jauh menceritakan pengalaman pribadinya di RBS.

Penulis juga kurang memaparkan tentang kontribusi apa yang diharapkan dari pembaca melalui tulisannya ini. Meski gaya penulisannya sudah cukup baik, tulisan ini akan berakhir sebagai catatan pribadi penulis saja. Mengenai identitas penulis, sudah tepat karena dicantumkan dengan jelas di bagian atas blog. Sehingga siapa pun yang membacanya, bisa langsung mengetahui penulisnya. 

Berdasarkan pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), penulis sudah sangat teliti dalam penggunaan huruf kapital, huruf miring, kata depan, penempatan partikel serta bebas dari kesalah ketik alias typo.

Secara keseluruhan, tulisan singkat terkait pengalaman penulis ke Rumah Baca Suprau sangat menarik dari cara penyajiannya. Dan, terlepas dari beberapa kekurangan yang saya paparkan di atas, penulis berhasil membuat penasaran setiap pembacanya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Rumah Baca Suprau. Terima kasih :)




#NulisBlogSobat







Senin, 08 Februari 2016

Menjajal Keindahan Kota Para Daeng



Makassar, merupakan kota metropolitan yang berada di pulau Sulawesi, atau lebih tepatnya di provinsi Sulawesi Selatan. Makassar yang sejak abad ke-16 dikenal sebagai Bandar Niaga, terus mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Terutama di sektor ekonomi, yakni mencapai 9,31 %, dengan jumlah pendapatan per kapita 27,42 juta rupiah (2010).



Berdasarkan letak geografisnya, Makassar berada dititik koordinat 119°24’17,38” Bujur Timur dan 5°8’6,19” Lintang Selatan, atau berada pada pantai barat Pulau Sulawesi (Selat Makassar). Makassar yang pada tahun 1971 sempat mengganti nama menjadi Ujung Pandang, memiliki luas wilayah 17.577 Ha atau 175,77 km², dengan jumlah penduduk 1.339.374 jiwa (hasil sensus 2010). Tahun 2011, warga Makassar sudah mencapai 1.352.136 jiwa, yang terdiri dari 667.681 laki-laki, dan 684.455 perempuan.

dokumen pribadi
Disebelah utara, Makassar berbatasan dengan Kabupaten Maros. Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Gowa. Sebelah selatan, ada Kabupaten Gowa dan Takalar. Sementara, disebelah barat, ada Selat Makassar. Secara administrasi pemerintahan, Makassar yang dipimpin oleh seorang Walikota,  terbagi dalam 14 wilayah kecamatan, 143 kelurahan, 980 RW, dan 4.867 RT. Di bawah kepemimpinan Walikota, DR. H. Ilham Arief Sirajuddin, perwajahan Makassar mengalami banyak perubahan. Makassar terus bersolek, dan kian dilirik dunia. Beberapa mega proyek Ilham, diantaranya Revitalisasi Karebosi, Revitalisasi Pantai Losari, Masjid Terapung, dan Pembangunan Monumen Bawah Langit di jalan Metro Tanjung Bunga. Semua proyek tersebut cukup sukses mendongkrak kunjungan wisatawan, dan menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD), meski dalam pengerjaannya diwarnai banyak kontroversi. Seiring perkembangan, Makassar pun kini menjadi kota tujuan MICE yakni Meeting, Incentives, Convention and Exhibition sebagai roda penggerak pariwisata di Kota Para Daeng ini. 

dokumen pribadi
Makassar sekarang memang jauh lebih indah. Mungkin Anda pun akan sependapat dengan saya jika Anda meluangkan sedikit waktu menikmati kota ini bukan dari layar televisi saja. Salah satu momen terlaris bagi para pelancong yang berkunjung ke Makassar adalah saat di mana matahari mulai terbenam atau lebih akrab kita sebut sunset. Keindahan senja penuh warna di Losari selalu bisa memanjakan mata siapa pun. Bukan sekedar sajian senja, Anda yang datang bersama keluarga juga bisa bersantai sambil menikmati beragam penganan khas Kota Makassar, terutama pisang epe’. Pisang epe’ berbahan dasar pisang kepok matang yang dibakar dan dipipihkan, lalu disirami gula merah yang telah dimasak. Pisang epe’ kekinian pun telah berinovasi dengan varian rasa yang tentunya masih akrab di lidah masyarakat Indonesia maupun warga mancanegara, seperti pisang epe’ rasa keju, durian, dan coklat. Harganya pun tidak akan merobek kocek Anda, mulai dari Rp. 10.000,- hingga Rp. 15.000,- per porsi. “Pisang epe’nya sangat enak, dan ini cuma ada di Makassar. Kurang lengkap rasanya kalau ke Makassar tidak makan pisang epe’,” begitulah pengakuan Ardi, salah seorang pengunjung di Losari sore itu (07/02). 

dokumen pribadi
Angin sepoi-sepoi di Pantai Losari terus saja berhembus. Pelataran Losari yang kini telah disulap bak ruang tamu keluarga setiap sore sesak oleh ratusan manusia. Anak kecil berlarian kesana sini sambil menerbangkan pesawat mainan yang dibelinya dari salah satu pedagang asongan di anjungan Losari. Ya, hingga saat ini masih bisa kita lihat puluhan hingga ratusan pedagang kaki lima yang menaruh peruntungan mereka di seputaran Losari. Padahal Pemerintah Kota Makassar yang terus berganti nahkoda kerap kali “membersihkan” PKL dari pelataran anjungan Pantai Losari. Bahkan tidak jarang terjadi adu fisik antara pedagang dan Satpol PP. Seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu, lebih dari satu kali peristiwa bentrokan yang menyebabkan korban luka saat aparat Satpol PP melakukan penertiban PKL di Pantai Losari. Sebagai bentuk protes kepada pemerintah, ratusan pedagang juga sempat menduduki gedung DPRD Kota Makassar di Jl. AP. Pettarani tepatnya pada September 2015 silam.


dokumen pribadi
Sepaham dengan para pendahulunya, Walikota Makassar, Muhammad Ramdhan Pomanto tahun 2016 ini siap memoles Pantai Losari dengan kedok penataan pedagang kaki lima. “Nantinya para pedagang akan dikumpulkan dalam satu bangunan yang Pemerintah siapkan di sekitar pelataran selatan Masjid Terapung. Semua pedagang yang Pemerintah akomodir boleh menjajakan dagangannya selama 24 jam,” jelas Danny, sapaan akrab Walikota, Muhammad Ramdhan Pomanto. “Kita tidak lagi meizinkan pedagang kaki lima berkeliaran di Losari selain titik yang sudah ditentukan,” tegas Danny di ruang kerjanya, Selasa (29/12/2015). Eksistensi pedagang kaki lima sudah seperti pemanis bagi perwajahan Losari. Semoga ada solusi terbaik yang tidak merugikan salah satu pihak.

Membahas keindahan Pantai Losari, memang tidak ada ujungnya. Selain pelataran Pantai Losari, kini telah dibangun pelataran Bugis-Makassar, dan Toraja-Mandar yang kerap menjadi spot untuk berfoto atau sekedar duduk-duduk menanti pergantian hari. Monumen Bawah Langit yang berada di sebelah kanan Masjid Terapung, juga bisa membantu Anda melintasi sejarah terkait tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan seperti Sultan Hanuddin dan Pangeran Diponegoro. 

dokumen pribadi
Anda tahu becak? Ya, kendaraan roda tiga yang dikayuh secara manual juga diabadikan dalam bentuk tugu di salah satu sudut Losari sebagai alat transportasi tradisional Makassar. Selain itu, juga terdapat tugu tarian tradisional Kota Daeng, Peppe Pepeka Ri Makka dan tari Paraga, serta tugu kembar Adipura sebagai wujud penghargaan Pemerintah Indonesia kepada Kota Makassar atas keberhasilannya dalam hal kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Penasaaran ada keindahan apa lagi di Kota Anging Mammiri? Ayo ke Makassar!





#NulisBlogSobat2016 #Reportase

Jumat, 29 Januari 2016

Bertemu Malaikat Subuh

Bip...bip...bip..bip..

Dalam kondisi setengah sadar, tanganku meraba-raba dan mencari sumber suara yang menggagalkan misiku mengejar pelaku tabrak lari di depan salah satu mini market di Jalan Talasalapang, Makassar. Ketemu! Tangan kiriku lalu meraih handphone yang terselip di antara tumpukan boneka. Dengan mata setengah terbuka, saya melihat alarm bangun pagi yang terus memaksaku menanggalkan selimut dan melepaskan guling yang terus saja kupeluk. Berhasil! Waktu di HP menunjukkan pukul 04:27 wita. Tanpa berpikir panjang, saya bergegas bangkit dan meninggalkan tempat tidur. Dengan sedikit berlari, saya menuruni anak tangga dan meraih handuk di sandaran kursi kayu di dekat meja makan. Brukkk, tanpa sadar saya membanting pintu kamar mandi. Byar byur...byar byur.. sikat gigi, pakai sabun dan shampo saya selesaikan hanya dengan satu putaran. Ggrrrrr, saya menggigil. 

Usai menyelesaikan urusan di kamar mandi, saya kembali bergegas menaiki anak tangga menuju kamar yang tadi saya tinggalkan dalam kondisi gelap. Ceklek, kunyalakan sakelar lampu yang berada di dekat pintu kamar. Kakak yang menemani saya tidur terbangun karena silaunya cahaya lampu kamar. "Sekarang jam berapa?" tanya kakakku singkat. "Saya telat kak," jawabku. Kakakku pun cuma bisa mengomel dalam hati mendengar jawabanku yang tidak nyambung. Tanpa menghiraukan kakakku, saya berusaha berkonsentrasi mengenakan pakaian, menyisir rambut, lalu mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar. "Kakak saya berangkat ya. Assalamu'alaikum," pamitku dengan tetap tergesa, dan tidak lagi menunggu kakak menjawab salamku. 

Jam tangan Eiger yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 04:49 wita. "Maaf Revo, hari ini kita tidak ada pemanasan." Saya bergumam dalam hati berharap Revo bisa mengerti. Kubuka pintu pagar dan mendorong Revo keluar. Brummm, sekali stater Revo langsung meraung. Selama bertahun-tahun motor Honda Revo milik kakakku ini memang selalu bisa diandalkan dalam situasi genting.
Kutancap gas, speedometer Revo menunjukkan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Saya menyusuri Jalan Bontotangnga yang masih sepi, lalu berbelok ke Jalan Emiselan III. Tiba-tiba dari kejauhan, tepat di tugu Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Je'neberang mataku menangkap sebuah objek yang bergerak. Saya sedikit mengurangi kecepatan Revo, dan semakin jelas sosok yang kini melambaikan tangannya. Ada rasa takut yang sulit kugambarkan menyerang pikiranku subuh itu. Takut jika saja dia adalah penjahat yang berpura-pura mencari tumpangan, lalu menodongku dengan senjata tajam dan membawa kabur Revo. Bahkan, sempat terlintas bahwa dia bukan manusia, melainkan hantu yang gentayangan. Perasaanku bercampur aduk, hati kecilku berkata dia hanya orang yang membutuhkan pertolongan. Tetapi rasa takutku masih mendominasi. Belum lagi pikiran khawatir terlambat tiba di kantor, mengingat saya harus mempersiapkan studio untuk program Jendela Timur Pagi yang akan disiarkan langsung pukul 05:30 wita di Kompas TV Makassar. 

Sebelum hati dan pikiranku menemukan kesepakatan, kakiku dengan refleks menginjak rem. "Mau ke mana Kek?". Mulutku tanpa dikomando bertanya kepada lelaki paruh baya, yang mengenakan sarung dan baju koko berwarna putih sambil memegang payung. Ya, saat saya meninggalkan rumah memang sedikit gerimis. "Nak, bisa antarka ke masjid? Terlambatka sholat subuh kalau saya jalan kaki," pinta si kakek dengan suara sedikit parau. "Naik maki," ucapku dengan pasrah akan tiba terlambat di kantor. "Mauki diantar ke masjid mana Kek?" tanyaku lagi. "Di masjid Skarda Nak," balas sang Kakek sambil menunjuk jalan ke arah kompleks Skarda N. Di dalam hati saya semakin yakin bakalan terlambat karena jalan ke masjid berlawanan arah menuju kantorku di Jalan Pengayoman. Ke masjid saya harus mengambil jalan lurus, sedangkan ke kantor harus belok ke kanan. 

Sepanjang perjalanan, sang Kakek yang kubonceng sambil memegang kedua pundakku terus melafalkan ayat-ayat Al Qur'an sambil sesekali bertanya padaku. "Mauki ke mana Nak?" "Mauka ke kantor," jawabku singkat. Dari spion Revo, kulihat si Kakek hanya menganggukkan kepala dan lanjut melafalkan sebuah ayat Al Qur'an. "Belok kiriki Nak," si Kakek menunjukkanku arah. "Di depan belok kiri lagi, trus ke kanan yang ada portal." Wah, si Kakek seorang navigator yang handal. "Di sinimi Nak," si Kakek menghentikanku sambil menepuk-nepuk pundakku. Saya pun berhenti dan memarkir Revo tepat di depan pintu masjid. 

Saat tiba di masjid, muadzin baru saja mengumandang adzan. Si Kakek pun turun dari motor sambil menenteng payung yang sedari tadi disimpan di atas jok. "Terima kasih Nak. Itu tadi do'a keselamatan, bacaki terus kalau pergi-pergi," ucap si Kakek sambil berlalu ke dalam masjid. Saya hanya bisa terdiam, kembali kunyalakan Revo dan memutar arah menuju kantor. Masih gelap dan dingin. Kususuri Jalan Tamalate, Hertasning, dan Bau Mangga sambil berusaha mengingat do'a keselamatan yang dititip si Kakek padaku. Dan saya gagal. Saya gagal mengingat satu pun ayat dari do'a-do'a lelaki misterius itu.

Saya berusaha fokus untuk tiba secepatnya di kantor. Tiba di Jalan Pengayoman, kupercepat laju Revo memasuki gerbang kompleks kantor. Alhamdulillah, saya tiba dengan selamat. Seperti biasa, kuparkir Revo di dekat tiang bendera di halaman kantor. Saya berlari kecil menuju mesin check lock di atas meja security. Klik! Saya heran melihat catatan di kertas absensi masuk yang menunjukkan pukul 05:00 wita. Otakku berpikir keras, logikaku pun sulit mencerna apa yang terjadi subuh itu. Saya kembali berlari menuju ruang master control untuk melihat jam dan mengambil kunci ruangan studio. Jam digital di MCR juga menunjukkan waktu yang sama. 

Mungkinkah perjalananku yang serba tergesa-gesa tadi hanya kutempuh dalam waktu 11 menit saja? Padahal waktu normal perjalanan dari rumah ke kantor biasanya kulalui rata-rata 15 menit. Saya anggap ini adalah hari keberuntunganku. Saya tidak terlambat, dan tidak mendapat surat teguran dari kantor. Siaran pun berjalan dengan lancar.

dokumen pribadi

Esok hari, saya berangkat lebih awal berharap bisa bertemu si Kakek. Subuh demi subuh pun berlalu tanpa bisa bertemu lagi dengan Kakek yang entah siapa namanya. Saya berharap, si Kakek yang kujumpai di suatu subuh 2 tahun silam tetap dalam kondisi sehat. Bagiku, dia adalah Malaikat Subuh yang membawa kebaikan padaku hingga detik ini. 

#NulisBlog

Sabtu, 23 Januari 2016

ANS



17 Januari 2012
Oe..! Oe...! Oe...!
Suara tangisan bayi terdengar sangat lantang dari ruang bersalin rumah sakit milik dr. Masyita di Jalan Buakana, Makassar. Alhamdulillah bayi mungil berjenis kelamin perempuan telah lahir dengan berat sekitar 3 kilo gram dari rahim seorang perempuan muda berdarah Enrekang, Rusmiyani. Rusmiyani sudah seperti kakak buatku. Belakangan ini, ia mengabdikan diri di Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan, yang juga instansi pemerintah tempat ayahnya mencari nafkah sebagai PNS. Hhmmm.. sementara kita keep dulu ya pembahasan soal kak Umi, sapaan akrabku ke Rusmiyani.

Mari kita fokus pada bayi, yang merupakan cucu perempuan ke-empat dalam keluarga besar H. Abdul Latief Sanusi, Opaku. 
Proses kelahiran bayi yang akhirnya disepakati diberi nama Alifa Naila Sahra sungguh sangat dramatis. Perjuangan Naila untuk hidup di dunia fana ini diwarnai tragedi terlilit tali pusat atau bahasa kedokterannya plasenta saat di pintu rahim. “Dokter bayinya tercekik,” teriak salah seorang perawat yang turut membantu proses persalilan. Sontak saya pun panik mendengar suara gaduh yang samar-samar terdengar dari bilik berukuran 6 meter persegi. Menjawab rasa penasaranku, saya berusaha mencari celah untuk bisa mengintip ke dalam ruangan berpintu kaca itu. Setelah memanjat beberapa anak tangga, akhirnya saya menemukan celah untuk mengintip dari balik kaca yang tirainya sedikit tersingkap. Ternyata reaksiku berlebihan, tidak sedikit pun ada kepanikan di dalam sana, dokter dan para perawat tampak sangat tenang. Singkat saja, mereka berhasil menyelamatkan Naila dari renggutan maut.
 
Lantas, apa yang menyebabkan seorang bayi bisa terlilit tali pusat? Dan, resiko apa yang mengancam jika bayi lahir dalam kondisi terlilit plasenta? Berdasarkan penjelasan dari sudut pandang kedokteran, sebelum usia kehamilan menginjak 8 bulan, posisi kepala janin umumnya belum berada di bagian atas panggul. Ukuran bayi pun relatif kecil dengan jumlah air ketuban yang banyak, sehingga besar kemungkinan bayi terlilit tali pusat. Ukuran plasenta yang panjang yakni lebih dari 100 centimeter, juga memungkinkan bayi terlilit tali pusat. 

Soal resiko, memang selalu ada. Sebagian dokter berpendapat, terlilit tali pusat bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan, namun harus tetap diwaspadai. Pasalnya, puntiran tali pusat yang berulang-ulang bisa menyebabkan arus darah dari ibu ke janin bisa tersumbat total. Lilitan yang terlalu erat juga sangat berbahaya, karena kompresi atau penekanan tali pusat akan membuat janin kekurangan oksigen.

Bayi terlilit tali pusat, ternyata ada mitosnya juga loh.. Masyarakat jaman dulu percaya, bayi yang lahir dengan tali pusat terlilit, kelak akan pantas mengenakan pakaian apa saja. Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Namanya juga mitos.

Apa kabar Naila??

Sejak keluar dari rumah sakit, Naila tinggal bersama kakek neneknya di Jalan Jipang Raya No. 1, Kelurahan Karunrung, Kecamatan Rappocini, Makassar. Di rumah milik pasangan H. Abdul Latief Sanusi dan Dewi Raechan ini dihuni banyak orang, termasuk saya. Di rumah, Naila adalah penghuni paling kecil. Kehadirannya membawa keceriaan dan kebahagiaan di keluarga ini, layaknya pengantin baru yang sudah bertahun-tahun menanti momongan. Naila bagaikan mainan yang kami perebutkan di rumah, saya pun tidak pernah merasa puas jika hanya menggendongnya beberapa menit. Tetapi ‘tak apalah karena yang lain sudah menunggu giliran. Naila terus tumbuh menjadi anak yang pintar dan kuat, kuat karena begitu banyak kehilangan yang harus ia hadapi diusianya yang masih sangat dini. Kehilangan paling pahit yang harus Naila rasakan adalah saat di mana ibunya meninggal dunia tepat di hari ulang tahunnya yang ke-2, Jum’at 17 Januari 2014. Rusmiyani, ibu yang mengandung Naila menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU RS Grestelina. Sejak saat itu, semua orang di rumah menjadi ibu buat Naila. 

Belum lagi Naila paham soal arti kematian, ia pun kembali kehilangan sosok yang sangat dekat dengannya. 7 Februari 2015, tepat sepekan setelah Naila diopname di RS Bahagia karena demam tinggi, Limbong, kakeknya yang tidak lain adalah ayah ibunya juga meregang nyawa akibat serangan jantung. Maut memang mutlak menjadi rahasia Allah SWT, 26 Mei 2015 takdir kembali mempertemukan Naila dengan kematian. Opaku, H. Abdul Latief Sanusi yang juga kakek Naila harus kembali kepangkuan sang khalik juga karena serangan jantung. 

17 Januari 2016, hari ini usia Naila tepat 4 tahun. Tidak ada perayaan meriah layaknya momen pertambahan usia pada umumnya. Mengingat hari ini juga bertepatan dengan kepergian ibunya 2 tahun silam akibat maag akut. Diusianya sekarang, Naila memiliki bobot 28 kilo gram, jauh di atas berat normal anak seusianya dengan tinggi melewati pinggang orang dewasa. Neinei, begitu saya selalu memanggilnya juga jadi peniru yang sangat baik. “Naila, kalau duduk yang sopan. Kakinya tidak boleh dinaikkan ke meja,” tegur kak Riri, tante yang kini jadi ibunya Naila. “Ih, tidak apa-apa Mama, itu kakak Dede juga kasi naik kakinya di meja,” timpal Naila dengan polosnya sambil menunjuk ke arahku. Mendadak saya merasa jadi tersangka utama, saya berusaha menenangkan diri. Namun, tidak kutemukan kalimat yang pas untuk membela diri. Saya hanya bisa pasrah dan mengaku salah. Sejak peristiwa memalukan itu, saya dan orang-orang di rumah makin ekstra berhati-hati dalam bersikap dan berucap. 

Naila, semoga Allah terus menjagamu dalam pelukanNYA. Semoga pertambahan usiamu senantiasa berlimpah berkahNYA. Sehat selalu dan teruslah jadi obat bagi penatku saat lelah mulai menggerogoti raga ini. Really miss you Naila.


#NulisBlog2016 #SobatLemINA